Dia Bukan Lagi Imamku
Solid Gold
SMG-Jika
melihat dua buah hatiku, aku tak ingin menempuh jalan ini. Tapi mengingat
bagaimana suami memperlakukanku, mengkhianatiku, rasanya perceraian adalah
jalan terbaik.
Sebut saja aku Hesti. Usiaku tak lagi bisa
dikatakan muda, 54 tahun. Aku ibu dari dua orang anak. Sebetulnya, rumah
tanggaku baik-baik saja. Ya, andai saja, aku tak terlalu penurut, mungkin rumah
tanggaku baik-baik saja. Tapi aku adalah jenis istri yang terlalu percaya pada
suami. Hingga akhirnya, kepercayaan itulah yang menghancurkan rumah tanggaku.
Pembaca, pernikahanku dengan Mas Dani,
sebelumnya baik-baik saja. Kami menikah atas dasar cinta, bukan paksaan. Cinta,
juga kasih sayanglah yang mendekatkan kami. Aku perempuan yang bekerja,
demikian juga suamiku, bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor di sebuah kota
di Jawa Tengah. Aku akui sejak awal pernikahan, kami memang terpisah jarak.
Proyek perusahaan suamiku yang lebih banyak di luar kota, mengharuskan kami
berpisah. Tapi bagi kami, jarak bukanlah hambatan. Karena soal itu terkalahkan
oleh cinta kami yang bergelora.
Pada awalnya memang baik-baik saja. Hingga
lahir dua anak kami, tak ada persoalan serius. Walaupun ia hanya pulang
setidaknyasatu kali dalam seminggu, tapi itu bukan penghalang bagi kami untuk
menguatkan cinta kami. Aku merasakan bahwa keadaan itu membuat hubungan kami
awet. Ada perasaan kangen yang terus terpelihara. Rasanya, kami seperti
sepasang kekasih yang sedang pacaran saja. Keadaan itu terjaga hingga dua anak
kami tumbuh dewasa. Duh indahnya.
Aku selalu berdoa dan berharap, keindahan
itu selalu terjaga hingga kami tua. Tapi, manusia hanya bisa berharap dan
berharap. Selebihnya, nasib manusia sepenuhnya di tangan Ilahi. Walaupun aku
tak hendak menyalahkan Tuhan atas tragedi rumah tanggaku.
Ya, pembaca keadaan yang kuanggap baik itu
ternyata tidak benar-benar baik. Suamiku ternyata mendua. Ini aku ketahui
setelah, kami mulai sering ribut. Pada awalnya, aku tak tahu jika di
belakangku, Mas Dani ternyata berkhianat. Mungkin aku terlalu lugu sebagai
seorang istri.
Kisruh rumah tanggaku bermula justru dari
tudungan Mas Dani. Ia menuduh aku berselingkuh dengan teman kerjaku. Aku kaget
setengah mati. Aku tak merasa melakukan apa yang ia tuduhkan. Jelas aku
mati-matian membantah. Yah, sejak itulah, rumah tangga kami mulai goyah. Ada
persoalan kecil saja, langsung membesar. Dan dia, selalu memojokkanku dengan
tudingan selingkuh itu. Begitu selalu berulang. Rumah tanggaku pun tak lagi
nyaman. Keindahan yang dulu pernah kami rasakan, sepertinya tak berbekas sama
sekali. Sakit rasanya hati ini.
Pada tahun pertama kami mulai sering ribut,
Mas Dani masih memberi nafkah. Dia juga masih sempat pulang ke rumah, mesti dua
minggu sekali. Itu pun cuma menengok dua buah hati kami. Aku pun mulai terbiasa
dengan keadaanku. Tapi aku tak diam. Lewat teman-temanku, aku mencari info
tentang Mas Dani. Dari mereka pulalah aku tahu, bahwa Mas Dani telah
berselingkuh. Lebih menyakitkan lagi, perselingkuhan itu terjadi bersamaan
ketika dia menuduhku berselingkuh. Duh Gusti.....baru aku sadari, rupanya
tuduhan Mas Dani itu hanyalah cara dia untuk mencampakkanku. Mas Dani...teganya
dirimu....
Akhirnya, dari mulut Mas Dani aku mendengar
pengakuannya. Dia mengaku telah tiga tahun berhubungan dengan seorang perempuan
dari rekanan kantornya. Dan lebih hebat lagi, saat itu juga, dia mengatakan
niatnya berpoligama. Duh sakitnya hatiku.
Bahkan di depan orang lain, dia mengatakan
sesuatu yang jelek tentang diriku untuk membenarkan tindakannya berselingkuh.
Aku yang telah jatuh, makin terpuruk. Yah, apa kurangnya diriku. Padahal aku
selalu menuruti kehendaknya.Aku menolak keinginannya. Bagiku lebih baik
menjanda daripada harus dimadu. Toh sejak badai menghempas rumah tanggaku, aku
telah terbiasa sendiri. Aku menuntutnya untuk menceraikan diriku.
Sesungguhnya, hati kecilku tak ingin
menempuh cara itu. Aku ingat dua buah hatiku, masih membutuhkan bimbingan
seorang ayah. Kadang aku bimbang. Tapi jika mengingat bagaimana Mas Dani
memperlakukan aku, rasanya perceraian itu adalah jalan terbaik. Bagiku, Mas
Dani telah kehilangan kewibawaannya sebagai seorang lelaki. Dia telah
mencurangi istrinya sendiri, perempuan yang siang malam berdoa untuk
keselamatan dan kebaikan dirinya. Yah, akhirnya aku sadari dan memantapkan hati
bahwa dia bukan lelaki yang pantas untuk menjadi suamiku. Dia memang ayah dari
anak-anakku. Tapi dia tak pantas untuk jadi imamku
baca Disclaimer
0 comments:
Posting Komentar